Kamis, 12 November 2015

Selamat Jalan Ibunda Tercinta Semoga Bahagia di Akhirat Kelak


Tidak akan ada yang pernah menghindar dari kematian meskipun dia bersembunyi di tempat yang paling aman sekalipun. Mungkin sedang di jalanan dengan mobil, di pesawat terbang, dalam benteng yang kokoh bahkan di rumah yang kita anggap sangat aman sekalipun. Seperti terjatuh dalam rumah, bahkan di saat ibu sudah dengan pendamping untuk dijagai oleh seseorang terlebih lagi bila tidak dijaga atau dituntun, bila sudah di atas usia 75 tahun ke atas.

Ibu penulis (lahir 1939) saat usia 30an tahun


Akan tetapi lain halnya bila orang tua kita, masih merasa kuat, sehingga saat kita mungkin sedang izin sebentar tapi ada kalanya kita lengah 1 atau 2 menit saja semisal kita ingin ke kamar mandi atau hal lainya, lalu ibu kita jalan sendiri (padahal sudah dikatakan agar menunggu sebentar), lalu bisa saja jalannya terserimpet atau terpeleset, yang mengakibatkan patah tulangnya di bagian yang bukan tungkai sehingga tidak bisa dilakukan ke pengobatan patah tulang, semisal tulang yang patah pada bagian dalam tulang panggul, yang mengakibatkan harus dioperasi besar, padahal syarat operasi 5 organ tubuh bagi orang yang sudah sepuh (usia tua) harus terpenuhi, seperti jantung, paru-paru, ginjal, tidak darah tinggi dan tidak osteporosis (tulang keropos). Operasi besar ini bisa saja beresiko fifty-fifty bagi hidupnya. Misalkan dulu pernah perdarahan otak juga di usia 40 an tahun dan akibat ini setahun penulis pernah menangis lamanya, bagi ibu tercinta.

Jadi bagi Anda yang masih memiliki kedua orang tua yang sudah di atas 70 tahun, sayangilah mereka, jagalah dengan pendamping yang semaksimal mungkin terbaik yang dapat Anda berikan, jika kita sedang bekerja ke luar rumah.

JALAN-JALAN TERAKHIR BERSAMA IBU

23 September 2015

Saat kakak sedang pergi bersama suaminya, penulis bersama istri menemani ibu (usia 76 tahun) yang ingin pizza hut di siang 23 September 2015 lalu. Dan penulis mengajak istri agar menemani ibu yang jalan di rumah masih biasa tapi sudah tidak berjalan lancar, sehingga di SMS Mall daerah Sumarecon Serpong dan ada fasilitas kursi roda di pintu masuk bagi orang yang sudah lanjut (manula). Lalu penulis memarkir mobil dan menemui ibu dan istri yang sedang mencari baju untuk ibu di pameran busana di lantai dasar mall.

Dan ibu minta dibelikan baju (tas plastik warna merah), lalu kita ke pizza hut. Lalu penulis ingin berfoto bersama ibu. Di sini penulis sudah merasa, serasa jelas perasaan ini, dan penulis berharap agar (janganlah) foto ini adalah foto terakhir bersama ibu berjalan-jalan di luar. Mungkin ini sebuah pertanda, karena memang perasaan itu begitu kuat di hati.


JATUH DAN DIRAWAT DI RUMAH SAKIT


Setelah dari rumah sakit menjenguk ibu, berkumpul bersama Oom & Tante dari kampung halaman dari pesisir Selatan, juga bersama kakek [(berbaju kaos merah dan memakai topi) yang juga pejuang angkatan '45 melawan penjajahan tahun 1945 saat ini berusia 91 tahun] dan nenek serta saudara-saudara. Penulis berdiri di kiri belakang dan istri penulis posisi di depan penulis (berbaju merah).

Setelah info dari dokter bahwa rencana operasi yang berisiko fifty-fifty persen, sungguh banyak memang tanda-tanda sebelum menjelang perawatan bagi ibu, mulai suka membingkai foto dengan foto-foto kunonya digabung dengan fotonya yang baru. Ya Allah ini tanda semakin jelas saja.

Setelah operasi yang berjalan lancar di Selasa 3 November 2015, ternyata Kamis 5 November terjadi perdarahan hebat lebam gelap darah di leher di bawah kulit hingga lengan, yang sudah dipastikan ini adalah tidak kuatnya saluran darah di kepala (otak) yang dulu tahun Desember 1984 pernah dioperasi (setelah pengangkatan tumor rahim) dulu penulis masih berusia 16 tahun, dan saat ini terjadi lagi yaitu tidak kuatnya aliran darah dikepala mengingat usia sudah 76 tahun. Sedangkan bila tidak dioperasi juga sangat bahaya, karena tulang bundar di pinggul patah yang menyebabkan sakit luar biasa. Dan akhirnya ibu sangat tidak kuat dengan kondisi sehingga hb sampai 6 dan 5 hari kemudian masuk ke kondisi gagal nafas.

Terima kasih kepada pimpinan dan segenap karyawan dokter dan perawat di rumah sakit Bethsaida atas operasi untuk ibunda penulis yang berjalan lancar akan tetapi (takdir) Allah berkehendak lain. Hingga sampai penguburan ibunda tercinta kami diberikan fasilitas ambulan berikut vorider dan bus gratis untuk keluarga besar kami dan TPU Pondok Kelapa pp.

SAAT SEDIH MENGURUS LIANG KUBUR
Ya Allah janganlah Engkau beri siksa kubur / azab kepada ibuku. Ampunilah segala dosanya ya Allah. Tersayat hati ini saat melihat sejengkal demi sejengkal liang kubur yang semakin dalam saat digali di Selasa 10 November 2015.





Setelah acara penguburan selesai dan semua pelayat pulang. Dan bersama teman-teman kakak sulung (kakak no. 1), sedangkan penulis adalah nomor 3 (bungsu). Penulis paling kiri (berbaju koko putih) di sebelah adalah U c y  B i n g  S l a m e t.



Bersama istri (kiri) dan U c y  B. S l a m e t (tengah)

Hanyalah do’a yang bisa aku panjatkan, semoga diri ibu bahagia di surga akhirat yang kekal abadi. Selalu kukirimkan Al Fatihah untukmu ibu. Ampunilah segala dosanya Ya Allah yang Maha Pemberi ampun.
Sungguh berat siksaan-Mu Ya Allah yang tak akan ada seorangpun yang sanggup menerima hukuman-Mu yang maha dahsyat. Terimalah ibuku di tempat terbaik di sisi-Mu Ya Allah. Aamiin.

Drs. R. Kurniawan Prihatmono
Penulis