Minggu, 04 Oktober 2020

Kemana Untuk Menilai Evaluasi Pertumbuhan & PerkembanganTumbuh Kembang Bayi Down Syndrome Kami ?

Banyak sekali dari bulan ke bulan di setiap tahunnya bayi Down Syndrome yang selesai ikut metode ke kami di beberapa propinsi (Jakarta dan Jawa Barat / Bandung) dan propinsi-propinsi lain di hampir seluruh Indonesia.

Ada kisah 2 orang tua pasien kami yang menceritakan kisahnya ke kami, saat masih dalam proses treatment di saat usia 9 bulan atau 14 bulan atau yang sudah berjalan. 

Kemudian ke 2 orang tua ini ingin mengetahui hasil perkembangan tumbuh kembangnya ke 2 dokter ahli tersebut.

 


Di Jakarta orang tua pasien kami sampai meminta evaluasi kondisi dan kemajuan pertumbuhan dan perkembangannya ke Proffesor Dr.  dr. Rini Sekartini,  Sp. A (K).

Dan di Bandung (juga ada) yang meminta evaluasi penilaian pertumbuhan dan perkembangan hasil latihan dan treatment kami pada bayinya ke Prof. Dr. Purboyo Solek,  Sp. A (K). Kata  ibu pasien kami :
“Pak Kurniawan, saya sampai antri beberapa bulan untuk bisa ketemu proffesor di RS Melinda untuk anak saya.” Demikian karena saking banyaknya, jadi memang antri  untuk bertemu konsultasi anak ke beliau.

Kami diceritakan :
Ada salah satu ibu-ibu yang bayi DSnya ikut  metode kami sejak 1 bulan, saat anaknya yang usia 14 bulan disuruh berjalan mengitari meja, ternyata mengerti perintah Prof. Rini dan dites lainnya juga bagus kondisinya.

Begitu pula dengan yang di Bandung, begitu usia 9 bulan dites oleh kemampuan usia 9 bulan mengatakan ke Prof. Purboyo Solek :
“Wah ini kondisinya sudah sudah bisa melakukan kemampuan di usia 9 bulan prof.”

Di Indonesia ke 2 professor ini merupakan tempat konsultasi dan mengevaluasi pertumbuhan dan perkembangan terbaik di Indonesia. Alhamdulillah hasil metode latihan fisik, treatment kami termasuk passed (lulus) oleh ke 2 proffesor ini yang ke 2 orang tua pasien yang menceritakan ke penulis. Tentu kami turut bangga mendengar kabarnya. (Berpikir positiflah).

Bahkan ada juga pasien kami yang ikut fisioterapi kami sejak 2016  (usia 1 bulan) setelah bisa jalan di usia 18 bulan dan usia 19 bulan diam-diam melakukan tes CTScan otak di RS Puri Cinere. Dan yang mengetes adalah Dr. dr. Irawan Mangunatmadja, Sp.A (K) Pediatric Neurologist:
Begitu di CTscan dan ukuran lingkar kepala baik dan otaknya full (penuh) putih, maka beliau berkomentar (bernada bertanya) :
Bisa bagus begini ya otaknya, bisa penuh, biasanya ada warna abu-abu atau bagian yang gelap.

Dan setelah kami berkunjung kembali ke rumahnya, diceritakanlah oleh ibunya dan sambil memperlihatkan hasil CTScan otak anaknya (saat itu usia 19 bulan) di April / Mei 2017.

Jika kita lihat tarik pelajaran (lihatlah dari sisi positif) hasilnya bahwa otak bayi DS pun bisa full (penuh) volume otak dengan organ dengan sulur-sulur, sel syaraf dan neuron-neuron (di dalam tempurung kepalanya). Dan berceritalah ibu pasien kami ini (ke Pak dokter Irawan) bahwa sejak usia 1 bulan mengikuti metode kami bayinya ke kami hingga CTscan dilakukan pun masih berlanjut.

Usia 2 tahun ibunya ikut Sahabat Potads Indonesia 4 (sejak 2018- hingga saat ini 2020) dan anaknya keterima (dan masih bersekolah di 2020) ini di sekolah Lazuardi Cordova di Cinere usia 2 tahun 3 bulan lulus uji psikolog dan alhamdulillah puji syukur anaknya bisa mengikuti pelajaran di PAUD umum dan Pra TK Umum di usia 3,5 tahun. Setiap semester ibunya suka memperlihatkan ke kami nilai raport setiap semesternya, raport berbentuk essay (tuilsan) cukup panjang beberapa lembar.

http://kprihatmono.blogspot.com/2018/05/fisioterapi-menyeluruh-untuk-tumbuh.html

Di 2014-2017 bayi-bayi DS kami banyak sekali kami rekomendasikan ke dokter Piprim Sp. A (K) untuk dilakukan tes echo jantung, jadi saat bayi DS dari para ibu-ibu melakukan perulangan kembali tes echo jantung yang semulanya bermasalah, dokter Piprim melihat kemajuan membagusnya wajah dibandingkan tes echo jantung yang pertama.

Dan masih banyak prestasi hasil fisioterapi yang merupakan percontohan di beberapa dokter Sp. A lainnya di propinsi lain,  seperti di:
+di Aceh
+salah satu pasien kami di 2015 selesai fisioterapi disebut pasien tercantik saat ikut Terapi wicara di KKTK RSAB Harapan Kita Jakarta Barat
+di RS Mitra Cikarang
+di Banjarmasin
+dan masih banyak lagi

SETELAH KAMI PRESENTASI
Sejak 2017  kami banyak memberikan presentasi seputar metode kami kepada para dokter dan perawat-perawat dan bidan-bidan di beberapa  propinsi di Indonesia. Pihak medis (dokter-dokter, perawat-perawat, perawat bedah,  perawat konsultan anak, bidan-bidan) dari berbagai rumah sakitpun tak luput mereka juga banyak yang memiliki (melahirkan bayi DS) di Indonesia. Begitu penulis presentasi ke rumah-rumah mereka dan memperlihatkan banyak sekali bukti hasil foto-foto dan video sejak lahir hingga selesai (di berbagai propinsi termasuk Jabodetabek, Bandung) takjub dan terheran-heran dengan hasil kami karena banyak menjadi anak DS percontohan di berbagai rumah sakit di Indonesia di banyak propinsi.

Alhamdulillah hasil kami, sekaligus kami haturkan terima kasih penulis haturkan yang sudah percaya melalui tumbuh kembang kami, semoga anak bapak/ibu semakin cerdas, pintar dan berekspresi senyum yang bagus, manis juga dengan wajah yang sudah lebih baik jauh dari wajah kembar 1000 DS, tujuannya semoga anak bapak/ibu terminimalisir dari body shaming (diledek fisiknya).

https://terapidzikirds21.com/dampak-perlakuan-anak-lain-yang-melakukan-body-shaming-kepada-anak-down-syndrome#more-395

MENCEGAH KAKI PENGKOR KAMI JELASKAN
Mencegah adalah lebih baik. Bahkan kami menjelaskan berbagai macam pencegahan perilaku yang bisa membuat fisik menjadi (bisa) bermasalah, seperti melintir lengan, disposisi tulang lengan dan tumit agar menghindari seperti pengkor ke luar dan pengkor ke dalam.

KAMI MENERIMA SEMUA AGAMA DAN SUKU APAPUN DI INDONESIA.
TUJUAN LATIHAN FISIK KAMI HANYALAH DI MULAI DAN DITUJUKAN KEPADA BAYI YANG MASIH 9 BULAN (MAKSIMAL), HASIL TERBAIK MULAI MASIH BAWAH 6 BULAN.

===============
Salam dari penulis,
Drs. R. Kurniawan Prihatmono
SMS kan nomor WA ke 081386837511
Buktikan bapak/ibu punya bayi DS

MAAF JANGAN EMAIL SAYA, Lebih cepat ber-WA
Hanya bagi yang serius memiliki bayi DS
IG: Terapidzikirds21

Menerima semua agama & suku apapun


Dampak Perlakuan Anak Lain Yang Melakukan Body Shaming Kepada Anak Down Syndrome


FISIOTERAPI KAMI MENERIMA SEMUA AGAMA DAN SUKU APAPUN DI INDONESIA.
HASIL BAIK SAMPAI PERBAGUSAN WAJAH DIMULAI KEPADA BAYI 9 BULAN (MAKSIMAL), HASIL TERBAIK MULAI IKUT MASIH BAWAH 6 BULAN.

Contoh 1 Bayi : Dengan mata Down Syndrome yang sipit kondisi mata kanan lebih kecil sebelah

Contoh 2 Bayi : Dengan mata Down Syndrome yang miring naik sudut / ujung mata digambarkan dengan garis putih

LATAR BELAKANG
1. Apa itu body shaming & apa dampak perlakukan body shaming pada anak down syndrome?
2. Mengapa wajah bayi down syndrome perlu dibaguskan ?
3. Metode Fisioterapi kami sampai keperbagusan wajah bertujuan untuk meminimalisir perlakuan body shaming dan agar anak lebih confident (percaya diri)
4. Fisioterapi kami bukan terapi alternatif, kami bukan  pengobatan alternatif. Kami adalah fisioterapi tumbuh kembang (bahkan ditambah/sambil) membaca do’a (dzikir) saat bayi distimulasi & ditreatment, bahkan 4 macam contoh foto kondisi bayi DS pada artikel ini sudah bisa kami atasi pada bayi-bayi ini

KEPADA IBU-IBU PEMILIK BAYI DOWN SYNDROME DIMANAPUN JANGANLAH MENUTUP DIRI / MALAS MEMBACA TERHADAP METODE FISIOTERAPI KAMI, karena bisa jadi sangat membawa kebaikan untuk buah hati ibu di usia masa sekolah nanti.

Apa itu body shaming ? Silakan baca artikel berikut:
https://www.ibupedia.com/artikel/keluarga/7-cara-ampuh-mengatasi-body-shaming

Disadari atau tidak kita mungkin sering mengkritik atau mengomentari fisik seseorang seperti ini. Baik diungkapkan langsung maupun hanya bergumam dalam hati. Nyatanya, hal tersebut termasuk dalam perilaku body shaming yang memiliki dampak negatif. Body shaming sendiri adalah perilaku mengkritik atau mengomentari fisik atau tubuh diri sendiri maupun orang lain dengan cara yang negatif. Entah itu mengejek tubuh gendut, kurus, pendek, tinggi, kulitnya terlalu hitam dan lainnya. Orang yang melakukan perilaku seperti ini biasanya justru merasa bahwa hal tersebut dilakukan atas dasar bercanda dan tidak sengaja…[..]

DAMPAK PADA ANAK KITA
Tulisan artikel di atas bertujuan untuk anak biasa yang (maaf) tidak kelainan genetik seperti down syndrome, caranya yaitu dikatakan: TUTUP KUPING saja. Tidak bisa semudah itu bila perlakukan body shaming itu dilakukan ke anak down syndrome, anak down syndrome mempunyai wajah yang khas, ada yang mata miring ke atas sudut-sudutnya, kantung mata berbeda-beda tebal sampai sangat tebal, mata sipit (bahkan ada yang sipit sebelah) dan miring.

Belum lagi anak down syndrome itu memiliki perasaan yang peka, pemalu, sensitif dan baik hatinya. Sifat ini memiliki kelebihan dan juga tentu kekurangan, karena bila saat sekolah nantinya (misalkan di usia 7 tahun, 8 tahun) ada anak yang melakukan body shaming (karena bercanda, karena anak lain itu belum faham apa dampak bercanda/meledek bodi fisik kepada anak down syndrome).  Karena anak-anak itu (yang meledek) fisik anak DS karena tidak faham.

 

Sifat-sifat tadi tentu memiliki kelebihan dan tentu juga ada kekurangannya. Bagi yang pemalu,  sensitif, namanya juga anak “iseng /bercanda” mungkin usia baru 7 tahun atau 8 tahun belum faham apa itu krosomom dan down syndrome, terhadap anak DS yang terkena body shaming dari anak lain (misalkan di sekolahan), bisa-bisa berdampak fatal, yaitu bisa jadi besoknya tidak mau (berangkat) sekolah.

(Maaf) Bila ibu-ibu ada yang mengatakan:
“Bayi saya (sudah) indah, sudah bagus jadi tidak perlu dibaguskan lagi…”
Atau : “Sudah ciptaan Allah begini ya sudah terima saja”

Terhadap hal ini memang benar, semua ciptaan Allah tidak ada yang salah, semua sudah kehendak-Nya, dan apapun kondisinya memang sudah seharusnya disyukuri dan diterima dengan lapang dada. Tapi bukan berarti lantas kita tidak diperbolehkan untuk membaguskannya, apalagi usia pertemanan 7 tahun-10 tahun adalah masa-masa pertemanan yang sangat rentan terjadi body shaming di lingkungan bermain dan lingkungan sekolah. Kalau bapak/ibu memilih tidak mau membaguskan ciri-ciri penanda DS tersebut, hal ini adalah masalah lain.

Anak kita indah, tentu saja itu penilaian kita sebagai orang tua terhadap anak kita sendiri (bagi orang tua pemilik anak DS yang sudah merasa wajah anaknya memang sudah indah dan bagus ya syukurlah, karena fisioterapi kami bukan diperuntukkan untuk anak DS bapak/ibu ini), fisioterapi kami bagi mereka yang bayinya masih bawah 9 bulan dan ingin wajahnya lebih baik dari ciri-ciri penanda DS-nya, agar nantinya mulutnya tidak mangap dan menjulurkan terus lidahnya (seperti banyak terjadi di luar sana). Kata "indah" terhadap ciri yang (masih) banyak pada bayi DS adalah bersifat relatif tergantung siapa memandangnya. Kata indah barulah berarti lebih bernilai benar, bila dinyatakan jika ada 10 orang, lalu 7 orang atau lebih memang mengatakan indah, barulah memang indah dari segi arti secara kebersamaan. Karena seharusnyalah ciri-ciri DS apabila memang sudah bisa dieprbaiki dan ada metodenya, mengapa tidak dilakukan ? Tidak ada salahnya dan tidak ada keburukannya memperbaiki wajah dari ciri kelainan DS-nya.

MENGAPA ? Karena yang tidak bisa kita “kontrol” adalah mulut anak orang lain terhadap anak ibu (anak kita di usia 7, 8, 9 tahun). Kan yang sekolah adalah anak ibu, bukan ibu (bukan orang tuanya). Yang bisa jadi menerima “bercandaan” body shaming tadi anak ibu, bukan ibu-(nya). Bagi yang sudah merasa kondisi baik wajahnya, abaikan saja metode fisioterapi kami. Tapi KHUSUSNYA bagi mereka yang masih usia bawah 9 bulan, dan ingin wajahnya yang ada ciri-ciri khas penanda DS, seperti:
^mata sipit ==> supaya lebih lebar
^mata sipit dan sudut miring naik ==> supaya lebih ^lebar (bukaan matanya) dan menjadi lebih rata sudutnya tidak naik miring ke atas
^kantung mata tebal
^gelambir di leher belakang
^pipi ngondoi turun
^pipi bawah rahang tirus, tidak rata lebar
^leher tidak lagi sangat pendek, tapi lebih jenjang
^batang hidung antar mata flat (rata) supaya lebih ada
^dan kami jelaskan cara-cara pencegahan agar mata (semoga) tidak menjadi nystagmus (gerak-gerak kanan kiri kornea
^dan kemi jelaskan cara-cara pencegahan agar mata (semoga) tidak menjadi juling, juling adalah kornea mata berada mendekati posisi nose bridge.

Contoh 3 Bayi : Dengan bentuk wajah bayi Down Syndrome yang tebal-tebal seperti ini (sampai tebal lebar di leher) tentu kasihan bila sampai besar masih berbentuk dengan ciri seperti ini

Contoh 4 Bayi : Bayi Down Syndrome yang mengalami bisa mengalami tengleng di leher, akibat bayi suka ke satu sisi miring atau disusukan asi oleh ibunya ke satu sisi dan memang kebanyakan bayi DS ada kelemahan di tulang lehernya

MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
Banyak bayi DS yang bisa menjadi kondisi mata nystagmus dan juling kalau salah perlakuan, lebih baik mencegah dari pada kondisi anak menjadi nystagmus / juling lalu diberikan kacamata sebagai solusinya. Belum lagi anak DS cukup banyak yang bermata minus/silinder, jadi jangan lagi bertambah-tambah dengan kelainan mata lainnya (nystagmus dan juling). Bila ada masalah baru menjadikan biaya-biaya perbaikannya menjadi lebih mahal.

JANGAN BERPIKIRAN NEGATIF DAN SEMPIT
Bila ada orang tua yang melarang bayi pemilik DS orang lain (USIA BAWAH 8 BULAN) untuk ikut fisioterapi perbagusan wajah dan kondisi (seperti yang terlihat di bayi-bayi 4 contoh ini atau ciri-ciri kelainan lain) yang sebenarnya kami sudah punya pola perbagusan bayinya, berarti orang (yang melarang) tersebut tidak ingin bayi DS orang lain menjadi lebih baik kondisinya. Seharusnya kita menjadilah manusia yang mendukung bayi orang lain agar tampak dan kalau bisa tampil lebih baik, mengapa tidak bayi tersebut dilebih baguskan ciri penampilannya. Baca artikel sifat buruk manusia:
http://kprihatmono.blogspot.com/2012/03/7-15-sifat-buruk-manusia-dalam-al-quran.html

MENGAPA BANYAK ORANG TUA PASIEN MEMFISIOTERAPI KE KAMI
(Salah satu kejadian) Pernah kami mempunyai pasien bayi usia 4 bulan, perempuan dari Jawa Barat, dan setiap bulan datang ke Jakarta Timur (untuk mendekati kami) karena metode kami diharapkan untuk membaguskan wajahnya yang kondisinya:
-mata sipit
-pipi kiri agak bengkak lebih besar (suspect kista di pipi dikatakan oleh dokter Sp. Anak)
-batang hidung antar mata pesek
-berkantung mata
Begitu suatu hari kami datang kunjungan (home visit) fisioterapi ke kontrakannya usia bayinya baru di 5 bulanan (fisioterapi) baru berlangsung 1,5 bulanan, ada anak tetangga perempuan usia sekitar 6 tahun mengembalikan sebuah barang kepada ibunya (di saat istri masih memfisioterapi latihan didudukkan karena usia sudah 5,5 bulanan) si anak tetangga berkata wajahnya kurang baik (tapi dalam bahasa Jawa)
Langsung si ibunya menangis dan memohon dengan sangat ke kami agar cepat bisa bagus wajahnya, apalagi pipinya yang lebih besar sebelah, takutnya nantinya kejadian saat sang anak sekolah kalau dikatakan (bercanda) demikian oleh anak lain, maka bisa tidak mau berangkat sekolah lagi nantinya.

KITA TIDAK HIDUP SELAMANYA DI DUNIA
Kita sebagai orang tua (pemilik bayi apapun kondisinya, kelainan DS maupun tidak) tidak akan hidup selamanya di dunia. Suatu saat nanti kita akan meninggalkan anak-anak kita. Rezeki memang sudah ada yang mengatur, tapi rezeki ada yang didapat secara gratis (udara oksigen & cahaya matahari), tapi rezeki uang harus dicari (sistim  jemput bola), maka tentunya  kita sebagai orang tua harus bisa membekali anak (walaupun itu kelainan DS sekalipun) agar mendapat pendidikan yang sebaik-baiknya. Banyak di luar negeri, anak-anak DS bisa sekolah di sekolah umum sampai lulus Sarjana S1. Tujuannya adalah agar sepeninggal kita nanti semoganya anak ibu dapat membuat pekerjaan bagi dirinya sendiri (wirausaha), atau bisa bekerja di tempat bisnis orang lain. Di luar negeri banyak yang bisa punya usaha kuliner, punya usaha bisnis kaos sablon, model, aktor  dan lain-lain sehingga menjadi jutawan.

Lain hal kalau kita (bapak/ibu) sekalian orang kaya, misalkan suka tampil di tivi, publik figur, selebritis, politikus atau pejabat, maka kalau punya anak DS, si anak sampai tidak bersekolahpun, kekayaan orang tuanya bisa jadi masih bisa membiayai/membekali hidup anaknya atau bahkan sampai ke cicit-cicitnya. Nah bagi yang tidak (kelas menengah ke atas), bagaimana keadaan nantinya andaikan ibu melahirkan usia 35 tahun, lalu anak ibu yang DS sampai tidak sekolah, masa depannya bagaimana akan dapat “jemput bola” mencari rezeki tadi ? Bagaimana nasib anak bapak/ibu di usia 30 tahun, sementara suami ibu mungkin sudah di usia 70 tahun, ibu sudah di 65 tahun (sudah tua tidak punya penghasilan) suami tidak punya penghasilan (karena sudah tua), ibu juga, anak DS kondisi tidak bisa bekerja pula ?? Atau suami ibu (maaf mungkin) sudah meninggal. Sampaikah wawasan berpikir ibu ke sini ?
Apa mau titip ke kakak ibu/ke adik ibu, mungkin kakak dan adik ibu juga kondisi tidak berpunya.

Jadi metode fisioterapi kami yang sampai perbagusan wajah tujuannya adalah sangat jauh ke depan ibu, yaitu agar anak DS ibu nantinya tidak di-body shaming, lebih terminimalisir karena sedapatnya yang miring sudut mata sudah lebih mendatar,  yang kantung mata tebal  sudah tipisan, yang mata sipit sudah lebih lebar, yang gelambir di leher sudah hilang. Jadi anak usia 7, 8, 9 tahun saat di lingkungan sekolahnya diharapkan sudah tidak “ngeh” lagi dengan kondisi ciri penanda khas di wajahnya, harapannya semoga sekolahnya terus berlanjut dengan baik, harapannya agar dapat mandiri yang sejahtera sepeninggal ibu dan suami ibu. (Yang anak-anak biasa saja (tidak down syndrome) yang sekolah saja terkadang masih sulit mendapat pekerjaan, apalagi kalau anak bapak/ibu tidak bersekolah).
Pendidikan adalah merupakan aset terpenting bekal ilmu dari orang tuanya dalam merawat anak dan mengasuh dan mendidik anak. Dengan wajah dibuat agar anak lain tidak “ngeh” tadi, harapannya dapat terus bersekolah setinggi-tingginya. Semoga dapat ilmu yang bermanfaat kelak di usia 20an tahun, jadi anak tidak diam di rumah tanpa ngapa-ngapain dalam artian untuk pemenuhan hidupnya di masa depan kelak.

Dampak hasil fisioterapi kami yang baik di wajah bayi DS yang fisioterapi ke kami dan juga penjelasan mengapa tidak cukup hanya stimulus saja, maka bapak/ibu harus faham apa arti stimulus. Contoh yang perbaikan organ dalam, spt tangisan bayi DS, banyak bayi DS tidak menangis, ada yang  menangis terputus-putus, tercekat-cekat. Pada metode fisioterapi kami atas izin Allah bisa bersuara menangis pada beberapa kali setelah fisioterapi, dan yang terputus atas izin Allah menjadi lepas panjang dalam beberapa kali fisioterapi organ dalamnya:
https://terapidzikirds21.com/bayi-ds-tidak-cukup-jika-hanya-stimulus-tapi-harus-ditreatment-luar-dalam-seluruh-fisiknya

 

Salam dari penulis,
Drs. R. Kurniawan Prihatmono
Konsultasi Bayi DS (Fisioterapi oleh istri)
SMS kan nomor WA ke 081386837511
Buktikan bapak/ibu punya bayi DS

MAAF JANGAN EMAIL
Hanya bagi yang serius memiliki bayi DS
IG : Terapidzikirds21

Menerima semua agama & suku apapun

https://terapidzikirds21.com/

LATAR BELAKANG PENULIS
1999 sd 2013 bekerja di sebuah sekolah bertaraf internasional :
13 tahun bekerja di lingkungan anak-anak autis & down syndrome (ABK = anak berkebutuhan khusus).

2011 sd 2013 ikut MLM K-Link dan mengikuti seminar-seminar kesehatan yang diadakan oleh stokis-stokis (selama 2,5 tahun dengan pembicara-pembicara adalah banyak dokter-dokter sampai dokter anatomi fisiology tubuh manusia dari Malaysia (saat ini penulis sudah mencapai peringkat Emerald Manager di K-Link).


2011 sd 2020 (9 tahun) bersama istri keliling ke rumah-rumah pasien dalam memfisioterapi bayi DS. Dari 270 bayi yang sudah ditangani 70% mengalami jantung bocor (dari 70% sekitar 10% harus melalui operasi jantung bedah terbuka). Penulis sudah membaca hasil tes echo jantung sekitar 150 kasus bayi DS. Total sudah 20 tahun lebih penulis (hampir separuh hidup penulis, usia saat ini 52 tahun) berurusan dengan anak-anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).


LATAR BELAKANG ISTRI SELAKU FISIOTERAPIS
Pengalaman sudah melakukan fisioterapis penyakit medis 2002 - 2008
Pernah diminta memfisioterapi pasien berpenyakit medis ke Singapura
Sejak 2007 sampai 2020 sudah 13 TAHUN melakukan fisioterapis khusus bayi DS di banyak propinsi Indonesia & terapi aura
Di 2016 sampai sekarang sudah memfisioterapi bayi DS dari beberapa negara lain:, seperti:
Malaysia, Qatar, Sidney (Australia)

 

Senin, 25 Mei 2020

Kisah Nyata Perjuangan Ibu D di Cimahi Jawa Barat

LAHIR N ANAK PERTAMA IBU D DI CIMAHI

Banyak kisah nyata yang membuat para orang tua syok begitu lahir bayinya yang divonis Down Syndrome (DS), setelah itu perjuangan panjang dimulai. Kejadian membahagiakan, senang-gembira atas kemajuan yang terjadi / terlihat pada bayi, mengharukan bila bisa fase tumbuh kembang tertentu dan sedih bila sakit dan juga seperti kisah ibu D (di Cimahi) dengan bayinya N (maaf hanya inisial saja).

Semoga kisah nyata (yang telah mendapat izin dari ke 2 orang tua N) menjadikan ladang amal tersendiri untuk ilmu yang ditinggalkan di dunia ini. Ini membuktikan konsultasian yang maksimal dari penulis dan fisioterapi kami pada wajah dan pernafasan, pencernaan dan aura wajah dan hasil akhir menjelang usia 10 bulan membuktikan kepada bapak/ibu sekalian. Dan semoga kisah ini menjadikan hati-hati di masa pancaroba ini dari lingkungan kita (yang di Maret-April – Mei 2020 ini) akan hujan dan panas silih berganti…



N adalah anak pertama dari ibu D (31 tahun) lahir di salah satu rumah sakit di Bandung 8 Juni 2019 dengan berat 2,4 kg. Dan saat kontak sms pertama kali dengan penulis sudah usia 1 bulan (sms di 6 Juli 2019 dengan berat 2,8 kg).



Berceritalah Bu D (yang karyawan di sebuah pabrik di Bandung dan masih cuti melahirkan tinggal 1,5 bulan lagi) bahwa N jarang nangis, berat BBLR dan sudah diurus surat kelahiran dan sedang diurus BPJS-nya. Dan langsung secara cepat kami berkirim foto-foto untuk saya diagnosa ciri penanda DS-nya. Dan Bu D bertanya kalau home visit (kunjungan ke rumah) ke Bandung dan berapa kali fisioterapi dalam sebulan yang dilakukan di rumah dengan cara jarak jauh dan saya jelaskan lengkap setelah semua foto-foto N saya terima lengkap.

HARUS SEGERA TES ECHO JANTUNG
Dan saya jelaskan harus segera tes echo jantung, walau tidak ada tanda apapun di tubuhnya (misalkan  tidak biru, tidak sesak) dan ternyata diketahui bahwa N harus operasi bedah terbuka dada karena N mengalami Ebstein Anomaly.


Apa itu Ebstein Anomaly : Sumber Youtube

Semua cara mentreatment yaitu membaguskan wajah (mengusap khusus perbagusan untuk bayi down syndrome) dan agar kondisi tubuh, tungkai yang lemah dan kelainan-kelainan lain (harus diurut dengan pola khusus untuk bayi down syndrome) kami jelaskan saat kami kunjungan pertama dengan presentasi cara, metode dan bukti-bukti hasil fisioterapi kami pertama ke bandung di 14 Juli 2019 dan langsung fisioterapi pertama. (Bandung merupakan area kunjungan kami selain Jabodetabek). Cikarang Purwakarta hingga Bandung (Buah Batu & Cisaranten Kulon & Pinus Regency).



Terlihat ciri: Mata sipit, kantung mata tebal, jembatan batang hidung antar mata (nose bridge) flat/rata dan suara nangis yang jarang (tercekat-cekat), berat lahir N adalah BBLR), kondisi jantung ada KJB (Kelainan Jantung Bawaan) jadi sudah tidak diperlukan lagi tes kromosom, karena sudah dipastikan DS (demikian ibu D dan suami sudah menerima N dengan ikhlas tanpa perlu tes kromosom).

SECOND OPINION KE DOKTER RUMAH SAKIT KE 2

Dengan kondisi jantung Ebstein Anomaly  haruslah dapat obat anti kerja berat dan anti hipertensi (arteri) sehingga penulis berikan penjelasan dampak bahayanya bila tidak dapat obat jantung ke ibu N, dan sebagai second opinion (pendapat dokter ke 2) di Bandung di rumah sakit lain. Pun ternyata masih tidak juga tidak mendapat obat dimaksud dari dokter yang memeriksakan (padahal sudah jelas ebstein anomaly). Entahlah kami (penulis, istri penulis dan ke 2 orang tua N) hingga kini tidak jelas kenapa tidak memberikan obat jantung (?).



Akhirnya di usia menjelang 2 bulan (kurang beberapa hari) N mengalami diare di akhir Juli 2019 dan harus dirawat beberapa hari di salah satu RS di Bandung, tapi yang mengherankan penulis adalah N dengan jantung bocor yang harus operasi kenapa tidak diberi obat (penahan) kerja berat jantung ?

THIRD OPINION KE RS JANTUNG NASIONAL

Karena second opinion tidak membuahkan hasil, saya suruh kembali ibu D (ke usaha  ke 3) agar menuju RSJP Harapan Kita di Slipi Jakarta Barat untuk tes echo jantung second opinion (walau sudah 2 rumah sakit di Bandung tidak juga memberikan obat untuk jantungnya yang Ebstein Anomaly), karena N sudah ke luar dari rumah sakit di Bandung walau N sudah dengan bantuan tabung Oksigen untuk bernafasnya, itupun hanya selisih beberapa hari saja dari rs di Bandung (second opinion).



PERJUANGAN N & ORANG TUANYA BEGITU TINGGI

Ternyata prediksi kami benar (dari pengalaman kami) haruslah ada obat jantung seperti Captopril (dan 1 obat lainnya) dan Bu N bercerita ke saya mumpung tinggal 3 hari lagi akan masuk kerja (cuti kerja akan berakhir):
kata Bu N: 16 Agustus (2019) saya & suami ke RSJP Harapan Kita walau N pakai selang tabung Oksigen. dan benar N dapat 2 macam obat yang harus diminum setiap hari. Alhamdulillah, semoga kondisi jantungnya dapat bertahan dan semoga selang nafas dari tabung oksigen suatu saat bisa lepas dari ketergantungannya. Aamiin.


N masih memakai selang nafas saat terapi ke 2 kunjungan kami ke Bandung di Agustus 2019 dan selain itu kami jelaskan cara mentreatment untuk membaguskan wajah dan menguatkan tubuh (motorik kasar) agar cepat kuat, juga kami jelaskan cara mentreatment motorik halusnya.



Saat terapi di September 2019 N masih menggunakan selangnafas dari tabung oksigen. Istri penulis memfisioterapi jantung, saluran pernafasan dan otak dan pencernaan juga termasuk aura wajah agar lebih baik semuanya. Gambar di atas ini sangat disukai oleh Bu D yaitu N saat dipegang oleh istri penulis sambil nengok ke wajah istri penulis dengan mimik lucunya.



Kemajuan perkembangan N September 2019:
Suara nangis udah kencang walau baru sebentar-sebentar. Mata masih sipit, kantung mata sudah mulai tipis. Kondisi nafas mulai bisa 5 menit pagi hari lepas nafas dari tabung oksigen.


Perkembangan N Pertengahan Oktober 2019:
Kantung mata mulai tipis, mata sipit mulai lebih membuka agak besar, nafasnya sudah bisa 10 menit – 15 menit pagi sore lepas dari tabung oksigen dan mulai bisa senyum-senyum. Suara nangis sudah makin sering, lebih lepas.



Perkembangan kemajuan akhir Oktober 2019:
Mata sipit sudah makin lebar, kantung mata sudah sangat tipis, semakin bisa 30 menit – 1 jam N bisa bernafas tanpa tabung oksigen. Hingga di sinipun tabung oksigen masih harus punya 2 tabung ukuran sedang,  karena saat pengisian tabung oksigen masih butuh waktu pengantaran dan pengambilan yang bisa memakan waktu 2  jam, jadi kami (penulis & istri) masih melarang untuk mengembalikan 1 tabung, karena harus punya cadangan.

Perkembangan kemajuan N 12 November 2019:


12 November 2019 kondisi kantung mata  sudah hampir hilang, bukaan mata sudah cukup lebar (tidak sipit lagi) kondisi nafas N sudah bisa 3 jam – 4 jam lepas dari tabung oksigen. Dan  di akhir November 2019 N sudah bisa lepas dari tabung oksigen.
Fisioterapi berlanjut terus dengan berkesinambungan: treatment yaitu (usapan dengan pola yang benar), diurut (dengan arah dan cara yang baik) distimulus (rangsangan-rangsangan dan dorongan) dan latihan-latihan (seperti didudukkan dan latihan lainnya), dido’akan setiap treatment dan stimulus yang selalu dilakukan dengan sesering mungkin sesuai dengan arahan yang kami jelaskan ke ibu D.


Akhirnya wajah N di akhir Februari 2020 sudah sangat bagus, coba bandingkan dengan kondisi sewaktu usia-usia sebelumnya, terlebih saat baru usia 1-2 bulan. Semua ini atas ikhtiar pola yang benar melalui fisioterapi penulis sungguh-sungguh dengan rajin, sabar dan selalu berdo’a kepada Yang Maha Pencipta kita agar ada keridhoan atas di setiap ikhtiar (treatment & stimulus) yang dilakukan.
Tapi  sejak 15 Maret 2020 ini kami tidak bisa kunjungan ke N dikarenakan pandemi Corona, tanpa diduga kami mendapat kabar di masa pandemi corona (Covid-19) ini N di 27 Maret 2020 ini terkena demam tinggi & ada bintik-bintik merah (ternyata terkena DBD). Entah karena rumah sakit penuh, atau sedang banyak sekali yang sakit dirawat sehingga kurang cepat tertangani,  belum lagi harus tes darah lebih dulu, sehingga N 28 Maret jam 22an malam (usia 9 bulan 20 hari) dipanggil Yang Maha Kuasa.

APA PELAJARAN DARI KEMAJUAN & KONDISI N:

1. Hati-hatilah kepada para orang tua sekalian di pancaroba ini terhadap nyamuk Aedes Aegypti (DBD).
2. Jaga tidur bayi bapak/ibu sekalian lebih baik menggunakan kelambu.
3. Terlihat BUKTI HASIL FISIOTERAPI bisa bapak/ibu lihat perbagusan wajah N membuahkan hasil yang baik dan terlihat konsultasian maksimal yang telah kami berikan sangat baik untuk kemajuan (tumbuh kembang & nafas) N yang semakin baik.
Semoga N di akhirat kelak menjadi “tabungan” untuk kedua orang tuanya di akhirat kelak atas ikhtiar yang benar-benar tinggi dalam mengusahakan yang terbaik. Terima kasih keda ibu D dan suami yang telah percaya mau berikhtiar melalui metode fisioterapi kami (yang seharusnya tinggal selangkah lagi yaitu operasi bedah jantungnya), lalu  latihan berdiri, merangkak, titah & jalan.

Chat WA April 2020 penulis dengan Bu D, katanya:
Iya Pak banyak perjuangannya. Dari Pak Kurniawan & Bu Arfah (istri penulis) saya,  suami dan keluarga. Dari yang dilakukan sehingga bisa lepas dari tabung oksigen.
Dan bu D mengucapkan terima kasih atas usaha fisioterapi dari kami kepada N selama 9 bulan yang sudah diusahakan.

Bu D chat terakhir 16 April: Kami (sekeluarga) bersyukur masih bisa merawat dan memperbaiki hingga usia hampir 10 bulan, padahal di awal usia N sudah tau kondisinya seperti sudah tidak ada harapan untuk hidup. Ternyata N kuat, N berjuang untuk ibu dan ayahnya (suami Bu D) agar bisa main dan ngobrol.
Terakhir ibu D menceritakan 28 Maret tengah malam, N, Bu D dan  ibunya Bu D dites Rapid Tes dan 1 jam kemudian keluar hasilnnya ternyata NEGATIF CORONA. Tapi N (oleh pihak RS) di Bandung, sudah keburu diplastikkan dan dibungkus kain kafan. Namun di rumah dijelaskan bahwa N tidak dikubur dengan prosedur Covid-19 karena N tidak  terkena virus Corona, tapi positif DBD. Terbukti hingga 16 April  2020 seluruh keluarga ibu D sehat-sehat semua.

Selamat jalan N semoga suatu saat nanti kita berkumpul bersama di surga kelak. aamiin
============================

Artikel selanjutnya:
Apa perbedaan treatment dengan stimulus ? Dan mengapa bayi down syndrome tidak saja memerlukan stimulus namun juga sangat membutuhkan  latihan fisik dan treatment yang banyak pada seluruh tubuhnya ?

Salam dari penulis,
Drs. R. Kurniawan Prihatmono
SMS kan nomor WA ke 081386837511
Buktikan bapak/ibu punya bayi DS 


Selasa, 17 Desember 2019

Website Baru Latihan Fisik & Treatment DS 21

Kepada Bapak / Ibu di seluruh Indonesia
Khususnya pemilik (baru) bayi Down Syndrome

Alhamdulillah website baru sudah selesai dibuat, tinggal pembuatan & salin copy artikel dari Blogspot kprihatmono.

http://terapidzikirds21.com/

Semoga dengan website resmi berbayar ini, menjadikan para orang tua pemilik baru bayi DS lebih cepat percaya, tanpa perlu sangsi atau ragu & tertulis di bagian kanan header website baru, adalah apa-apa yang kami layani.

Semoga usaha tambahan sedikit kami ini, bisa membuat kehidupan banyak bayi-bayi/ anak-anak di Indonesia yang terlahir DS menjadi lebih baik hidupnya & bisa membanggakan para orang tua pemilik bayi DS di manapunt berada, semoga bisa jadi anak dengan wajah yang sebaik-baiknya, dan jadi anak sholeh & sholehah yang cerdas dan pintar bisa bersekolah di sekolah inklusi ataupun umum sehingga bisa hidup mandiri yang sejahtera kelak (sepeninggal orang taunya). Aamiin ya rabbal alamin.

Salam,
Drs. R. Kurniawan Prihatmono & istri (Arfah).
Sms-kan nomor WA ke 081386837511
IG : Terapidzikirds21
Menerima semua agama & suku apapun

Sabtu, 16 November 2019

Kisah Nyata Bayi Down Syndrome Dengan Duodenum Stenosis Yang Latihan Fisik Dengan Kami

Kisah Nyata Bayi Down Syndrome Dengan Duodenum Stenosis ini merupakan salah satu kisah bayi DS (Down Syndrome) yang fisioterapi dengan kami, yang sebelumnya sudah ada beberapa bayi dengan kasus serupa, tapi kisah-kisah sebelumnya belum penulis mintakan sehingga belum ada kepastian untuk diperbolehkan tidaknya penulis buat di artikel blogspot penulis. Tapi ibu Y (maaf hanya inisial saja) dengan bayinya D (maaf inisial saja) yang tinggal di Cikarang Barat ini telah memberi izin kepada penulis bahwa boleh dibuat kisah nyata perjuangannya dalam melatih fisik bayinya, merawat inap saat sakit sampai ke operasinya, semoga kisah ini membuat semangat para ibu pemilik bayi DS di seluruh Indonesia agar selalu semangat untuk buah hatinya agar menjadi anak berkondisi sebaik mungkin, semoganya kelak bisa sekolah di sekolah umum/reguler/inklusi semoga menjadi anak mandiri yang sejahtera sebagai penerus kisah orang tuanya kelak.

DS bukanlah penyakit, tapi suatu kondisi kelainan genetik (yaitu 3 di kromosom 21). DS Bisa bapak/ibu browsing di internet dengan keyword:
Down Syndrome is not a disease
Down Syndrome is not an illnes

Apa itu Down Syndrome dan ada kalanya bayi DS mengalami bocor jantung besar sehingga harus dioperasi bedah terbuka dada dan terkadang ada 1 bayi DS dari 70 bayi DS (atau 80 bayi DS) yang mengalami duodenum stenosis, silakan dibaca artikel berikut:
http://kprihatmono.blogspot.com/2018/01/kisah-nyata-kasus-jantung-bocor-besar.html

Setelah bapak/ibu tau apa itu DS, dan kenapa bayi ini pada awalnya penting sekali harus dilakukan tes echo jantung lalu harus diperhatikan organ-organ dalam lainnya, seperti pada kejadian ibu Y ini yang awalnya komunikasi dengan penulis di Januari 2019, silakan dibaca sampai selesai semoga bermanfaat.


Bu Y tinggal bersama 3 anaknya, 2 yang pertama adalah laki-laki, dan juga bersama ayah (akung) dan ibunya (nenek) di perumahan yang asri namun bukan jenis mewah, tapi di perumahan biasa.
Bermula di 14 Januari 2019 seorang ibu SMS ke penulis dan setelah itu penulis berteman whatsapp (WA) dengan ibu Y yang tinggal di Cikarang Barat. Ternyata kondisi waktu itu Down Syndrome dengan kondisi:

Jantung bocor ASD (serambi) 5 mm
Hipotiroid
Bayi kalau diminumkan susu terkadang muntah & hampir tiap hari
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) karena di bawah 2,5 kg (D lahir = 2,36 kg)
Berat baru di 2,44 kg (usia 1,5 bulan) (saat ber WA dengan penulis)
Kondisi perut buncit
Susah naik berat badan (1,5 bulan naik hanya 1 ons)
Mata agak nystagmus (gerak kanan kiri agak sering)
Suara nangis masih tercekat-cekat (kerongkongan & tenggorokan masih sempit)

Hasil Tes Echo Jantung D adalah bocor ASD (Serambi) 5 mm

Hasil Tes Hormon Tiroid D (FT4 & TSHs) Tanda * Berarti Hipotiroid

Dan ibu Y diminta suaminya (Pak M) yang dinas di Jawa Tengah (tapi pulang ke rumah 1 bulan sekali), meminta agar ketemu dengan penulis segera, dan memang sangat membahayakan kalau suka muntah, penulis & istri ada kecurigaan ada kondisi kelainan di usus, karena sudah bisa dimulai treatment usap dan urutnya, penulis presentasi target apa saja yang akan diperbaiki pada awalnya, hingga peningkatan kecerdasan otak dan penjabaran berapa kali di setiap bulannya.

Bercerita ibu Y:
D lahir di RS Mitra Keluarga Cikarang Barat. Ini merupakan cucu pertama yang sangat ditunggu keluarga. Sesaat setelah lahir, saya masih dalam pemulihan pasca operasi sesar,  suami menyampaikan kabar yang membuat saya shock, saya tidak tau DS itu apa ? Dengan perasaan yang tidak bisa saya ceritakan, saya coba cari-cari info di internet mengenai down syndrome, tapi yang saya temukan hanya tentang akibat dari down syndrome, bukan solusi seperti yang saya inginkan, karena saya ingin melakukan yang terbaik untuk bayi saya.

Hampir 1 bulan.....alhamdulillah tanpa sengaja saya menemukan blogspot Pak Kurniawan. Saya baca berulang-ulang, dan ini berbeda dengan blog-blog atau situs-situs di internet lainnya, pikir saya (Ibu Y). Ada kontak personnya. Saya langsung sms ke nomor tersebut. Tanpa disangka, Pak Kurniawan langsung respon, kemudian meminta data-data bayi saya. Saya pun meminta alamat untuk datang ke rumah beliau. Rumahnya juga ada, bukan fiktif. Secercah harapan mulai ada. Kemudian mulailah ikut metode kami.

D dari pihak suami merupakan cucu ke 4. Saya tidak punya semangat sebelum ketemu ibu (Arfah: istri penulis) dan Pak Kurniawan.


Sejak Januari minggu ke 3 dimulailah fisioterapi, dan 2x dilakukan perbaikan di perutnya yang buncit tapi tidak kunjung membaik, memang dari 1 bulan lalu sudah dikatakan bu Y bahwa D suka muntah, sedangkan biasanya dari pengalaman penulis pada bayi DS yang buncit 1x pegang langsung oleh istri (yang tidak ada masalah di bb, bak dan usus), biasanya sudah langsung berangsur-angsur mulai membaik kondisi buncitnya.

Kemajuan perbaikan pertama:
Alhamdulillah D sudah bisa nangis lama (semula pendek-pendek tercekat-cekat)

Akan tetapi begitu sampai treatment ke 2 perut masih belum terlalu membaik secara total, tapi sebagian sudah berkurang, dan penulis dan istri sudah langsung menyarankan segera USG perut, karena ada suka muntah dan usus terasa agak "berenjol-berenjol" (saat dipegang istri) yang harus dilakukan tes medis lebih dalam. Kata  istri penulis ke bu Y :
"Ini ada masalah di usus nih Bu, ini gak bisa diperbaiki di bagian yang ini, harus di-USG ini segera ya." Karena kami (penulis & istri) sudah faham bahwa kemungkinan besar adalah "duodenum stenosis".

Kondisi perut D

Tapi ibu Y hingga di Februari masih belum juga melakukan USG perut, ibu Y bekerja di perusahaan asing bidang elektronik sudah 16 tahun. Dan di awal Februari ternyata D kena batuk pilek, sehingga di hari ke 4 batuk pileknya harus dirawat inap di rumah sakit. Ternyata saat rawat inap itu terdiagnosa D mengalami sakit pneumonia (radang paru) sehingga harus dirawat hingga sembuh sekitar 6 atau 7 harian. Di sinilah akhirnya D bertemu dengan dokter spesialis anak dr. Frengky Susanto, Sp. A dan begitu melihat kondisi D, maka dokter Frengky menyuruh agar dilakukan tes USG perut, benar saja D mengalami duodenum stenosis.

Dr Frengky Susanto, Sp. A

Kemajuan perbaikan kedua:
Pneumonia alhamdulillah membaik. Setelah itu dirujuklah oleh dr Frengky (RS Mitra Keluarga Cikarang Barat) ke RS Mitra Keluarga Bekasi Timur untuk dilakukan operasi ususnya yang dilakukan oleh bu dokter Ruankha BiLommi, SpBA (dokter Bedah Anak Pediatric Surgeon).

Dr Ruankha BiLommi, SpBA

Kata Bu Y:
Akhirnya saya resign pas D usia 3 bulan, mengundurkan diri untuk fokus merawat D. Menguras emosi & air mata, sampai sekarang saja kalau inget masih mewek (icon nangis). Sampai suami saya juga mo ikutan resign. Mo mendampingi D katanya.


Usus D yang mengalami Duodenum Stenosis

KISAH OPERASI
Setelah sembuh dari pneumonia dari RS Mitra Cikarang Barat, dipindah pakai ambulance ke RS Mitra Cikarang Timur, pakai infusan dan selang Oksigen, Bu Y bercerita didampingi dokter & suster. D tidak menangis (masih dalam kondisi selang NGT), saya saja yang terus menangis. Sebentar-sebentar saya raba dadanya masih bernafas atau engga.
Dan suami dari belakang mendampingi pakai mobil dalam kondisi hujan deras dan petir di Februari 2019. Di kantung plastik sudah tertampung cairan hijau lumut pekat cairan dari lambung D.

Saat akan operasi Bu Y bercerita dibimbing do'a oleh bu Arfah (istri penulis).
Pasca operasi dokter bedah berkata: "Minimal 7 hari di ICU."
Kata bu Y: "Selama di ICU itu dokter bius standby di samping D (yang masih komplit dengan alat-alat bantu untuk hidup, dia (dokter) sangat kawatir, mengingat D ada jantung bocor juga, pasien terkecil di ruang ICU, berat baru 2,8 kg. Selama di ICU kalau ada kesempatan  jenguk yang hanya 1 jam suami mimpin dzikir di samping D, seperti yang pak Kurniawan ajarkan ke kami. Seminggu pneumonia, seminggu operasi usus sampai saya sakit, sampai periksa juga ke dokter di RS Mitra Cikarang juga..." : kata Bu Y menambahkan.


Lanjut bu Y: "Tidak bisa diungkapkan dengan kalimat apa pun tentang perasaan saya, tapi saya dzikir terus, saya drop juga selama di rumah sakit, 2 hari setelah di ICU, pas hari selasa saya dipanggil ke ruang ICU oleh bu dokter, saya deg-degkan...saya pikir D kenapa-napa, karena kan harusnya 7 hari lagi, udah gemeteran saya. Alhamdulillah ternyata kabar baik yang disampaikan dokter (secara) langsung, kalo D bisa dipindah ke ruang perawatan biasa. Saya malah bengong... (menatap ke dokter).
Tangan dokter saya pegang erat-erat, saya tanya:
"Benar D sudah bisa dipindah ke ruang perawatan ?" (sambil menangis saya di sini) tanya Bu Y.
Suster meluk saya, mereka (dokter & suster) bilang: "Ade (bayi) kuat banget ya Bu. Dede beruntung punya orang tua seperti ibu." tambah menangis saya: cerita ibu Y ke penulis.
Senin pagi dioperasi, lalu masuk ruang ICU, Selasa siang D sudah di ruang perawatan biasa, jadi hari ke 2 di ICU lalu pindah jadi hanya 1x 24 jam di ruang ICU. 



Bu Dokter Ruankha berfoto bersama D & ibunya menggendong D
Setelah D pulih pasca operasi di RS Mitra Cikarang Timur

Alhamdulillah akhirnya penulis mendapatkan kabar di Maret D sudah selamat & lancar dioperasi usus yang duodenum stenosis, berat sebelum operasi 2,8 kg dan di 5 April 2019 berat mencapai 3,3 kg (usia 4 bulan). Sehingga di April 2019, kondisi D yang sudah membaik adalah:

Perbaikan 1 Per 1 Membuahkan Hasil
Masalah suara nangis, alhamdulillah di Februari sudah lepas panjang.
Kelainan duodenum stenosis sudah beres dioperasi.
Sakit pneumonia alhamdulillah sudah sembuh.
Kekuatan asupannya mulai kuat dan sudah tidak muntah lagi.


Grafik Kenaikan Berat Badan D Membuahkan Hasil
Kemudian di awal April dilajutkan kembali treatment usal dan urutnya dan digenjot kembali asupannya. Mei berat naik menjadi 4,2 kg. Kondisi mata di Juni kami jelaskan cara mengurangi nystagmusnya, padahal mata tidak termasuk dalam perbaikannya. Lalu lebaran (Idul Fitri 3 Juni 2019 mencapai 5,0 kg, di akhir Juni alhamdulillah berat mencapai 5,4 kg.


Perbaikan Penampilan Wajah & Kondisi Mata
Kata bu Y: Sejak awal  sudah dijelaskan cara mengusap kantung mata, dan cara mengurut gelambir di tengkuk agar tipis. Alhamdulillah penampilan D dari bulan ke bulan semakin baik, sehingga tidak lagi wajah kembar 1000 DS, dan di Juli mata D mulai agak berkurang kondisi nystagmusnya.


Dukungan keluarga: Suami,  Kakek, Nenek & Bu De. Yang Bu De nya pun pada awal-awal-awal masa latihan sering juga ikut mendampingi Bu Y.

Juli - Agustus 2019 mulai ke fase/tahap didudukkan. Dan info dari Bu Y, akung (kakeknya) hampir tiap hari menyanyikan "nembang Jawa" ke D dan tentu saja terjadi "kontak" mata dengan D, sehingga D mendapat kemajuan di kemampuan babbling dan kemampuan bicaranya. 
Kata bu Y : "Di usia D 10 bulan (Oktober) D sudah bisa bilang Papa. Dan suami tiap malam mesti videocall (vc) melihat (perkembangan) D." 

Kata Bu Y:
Terakhir kemarin dokter Frengky bilang : sangat senang melihat D perkembangannya seperti anak yang terlahir normal.

Di November 2019 ini alhamdulillah D sudah kuat posisi duduk, sudah tegak dan sekarang berat sudah memadai untuk latihan pemberdirian (standing). Saat penulis ke rumah Bu Y di November ini, bagaimana suami sekarang melihat kemajuan D, kata bu Y:

Wah tambah senang Pak, sekarang suami saya vc (video call) seharinya 2x. Ini aja ngoceh terus, criwis ngga mau diem. Dari bayi dinyanyiin sama mbah (akung). & pastinya karena udah ikut terapi sama bunda (istri penulis). Sekarang-sekarang ini mbah nyanyi (nembang Jawa)...(D) ikutan.

Awal Desember 2019  D akan berusia 1 tahun. Dan akung (kakek D) saat kami kunjungan di pertengahan November bertanya ke kami:
Apa D di lebaran Idul Fitri 2020 sudah bisa jalan ? Karena mau diajak pulang kampung (ke kampung Bu Y & suami) di Wonogiri Jawa Tengah.

Kata Penulis:
Ya mbah semoga di lebaran (23 Mei 2020) usia D sudah 17 bulan inshaa Allah sudah jalan, asalkan rajin melatih 2 fase terakhir ini berdiri (lalu titah-titah) dan bisa melangkah (jalan). Semoga nanti ada kisah part 2 (saat sudah jalan).

Pesan dari penulis:
Kini penulis & istri penulis masih melakukan lanjutan 2 fase terakhir untuk D. Sangat beruntung D yang dilahirkan dari keluarga ibu Y ini dengan kondisinya benar-benar diperjuangkan hingga sangat baik kondisinya, keluarga hebat. Semoga D menjadi anak sholehah dan dapat menjadi anak yang mendo'akan ayah/ibunya/ kakek/neneknya ke surga kelak. Aamiin. Penuh pengorbanan besar untuk D, yaitu (pakai uang pribadi) Rp 100 juta, (masya Allah: kata penulis atas pengorbanan besarnya biaya, semula penulis pikir memakai BPJS) untuk biaya pneumonia & operasi usus D, semoga semua ikhtiar ini demi sang buah hati mendapat ridho Allah SWT.


Alhamdulillah Bu Y sudah tidak shock lagi, bahkan Bu Y, Pak M, bu De nya, akung (mbah) dan nenek sudah sangat bahagia melihat perkembangan D yang sudah sangat baik dari segi wajah, perbaikan medis (operasi), kemampuan duduk, dan kemampuan diberdirikan saat ini. Keluarga Bu Y mengucapkan terima kasih berulang kali kepada kami (penulis & istri) atas metode & fisioterapinya selama ini. Sama-sama Bu Y & keluarga, kami turut bahagia atas kebahagaian keluarga pasien kami yang mau serius berjuang demi buah hatinya. Semoga keluarga ini dinaikkan derajatnya di sisi Allah SWT di akhirat kelak.

Dan melalui blogspot ini atas nama keluarga Bu Y, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dokter Frengky, Sp.A dan dokter bedah anak Bu dokter Ruankha BiLommi, SpBA.

Sengaja di sini penulis sertakan foto-foto (walau dicropping/dipotong) demi kerahasiaan keluarga pasien di dunia maya (dari publik). Bahwa ini adalah kisah nyata dan bu Y sudah bersedia andaikan ada yang ibu lain ingin sharing (berbagi cerita / kenalan dengan orang tua lain pemilik bayi DS baru).

Semoga kisah nyata ini membuat semangat bahwa bayi DS harus dilatih dan ditreatment dengan rajin & penuh kesabaran. Dan juga diperbaiki satu per satu permasalahan kelainannya. Perbaikan bayi ini menjadi bagus sampai ke wajah (memperbaiki jaringan ikat yang kendur selayaknya bayi-bayi biasa agar normal jaringannya) atau tidak, tergantung pilihan orang tuanya mau mengikuti sampai ke perbaikan wajah atau tidak. Dan terkejar keterlambatannya tergantung kerajinan treatment setiap hari dan dukungan keluarga sangat berarti untuk buah hati bapak/ibu sekalian pemilik bayi DS. Semoga D ke depannya semakin baik lagi dan semakin cerdas. Melanjutkan kisah hidup orang tuanya kelak meneruskan cerita (orang tuanya) ini.

Pasca Operasi Usus Ditanya Dokter:
Kata Bu Y setelah selesai operasi dengan kondisi yang sudah baik, dokter bertanya ke saya & suami : Pak / Bu, D fisioterapi rumah sakit saja ? Dijawab oleh suami Bu Y: Maaf tidak dok, kami sudah ada yang datang melatih fisik dan treatment ke rumah.

Terima kasih Bu Y & suami yang telah mempercayakan buah hatinya D untuk yakin percaya penuh pada kami, semua treatment fisik luar & fisik dalam dengan kemu'jizatan dzikir dan do'a, hingga aura wajah dan peningkatan kecerdasan otak, semoga hasil terbaik atas seizin Allah SWT. Alhamdulillah D  sekarang sudah kuat diberdirikan (standing), wajah sudah sangat baik, mata yang lebar bulat bagus (tidak sipit mata kembar 1000 DS), murah senyum, sudah banyak berceloteh, berat badan di 7 kg-an, sudah banyak berceloteh dan menggemaskan. Semoga D tumbuh besar, meneruskan cerita hidup keluarga ini kelak.

Bu Y sempat bercerita, bahwa setelah operasi Bu Y dan suami sempat ditawari agar D fisioterapi di rumah sakit, tapi suami bu Y menolak dengan halus, maaf dok kami sudah ada yang datang ke rumah. Alhamdulillah ini sebuah penghargaan kepercayaan yang sangat bagi kami (penulis & istri).

Sejak awal tetangga Bu Y tidak tau bahwa D adalah DS, sekarang kalau D diajak jalan-jalan di sekitar perumahan, tetangga pada gemes,  "putih, cantik, lucu" : kata mereka. Semoga kehadiran D membuat bahagia keluarga hebat ini. Lebih baik tetangga memang tidak perlu tau pada awalnya kondisi bayi ini, setelah lebih baik kondisi-kondisinya, wajahnya dan kuat antibodynya barulah bersosialisasi.

Aviwkila pada video ini tentulah tidak DS, kami "meminjam" video sumber Youtube ini adalah berharap juga bahwa D anak Bu Y & Pak M di Cikarang Barat semoga menjadi sebaik mungkin seperti pada video ini bahwa anak akan melanjutkan kisah ke dua orang tuanya, (karena sudah tidak terlihat lagi ciri-ciri penampilan luar DS-nya, dan masalah organ dalamnya pun sudah bagus, dengan kondisinya sekarang ini di 11,5 bulan, bahkan dokter Frengky pun berkata bahwa D sudah seperti anak terlahir normal.

Aamiin ya rabbal alamin.

Penulis,
Salam dari penulis,
Drs. R. Kurniawan Prihatmono
Sms-kan nomor WA ke 081386837511

JANGAN EMAIL
Hanya bagi yang serius memiliki bayi DS

Menerima semua agama & suku apapun

====================================

Minggu, 22 September 2019

Donasi Masker Melalui Yayasan Mulia Hati Umat di Pekanbaru

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel tentang donasi Yayasan Mulia Hati Umat (yang berlokasi di Pondok Aren, Tangerang), yang tanggal 20-21-22 September 2019 sedang ada event di lapangan MTQ Pekanbaru, sehingga seminggu sebelum tanggal 21 September bermaksud mengumpulkan donasi uang langsung ke rekening Yayasan Mulia Hati Umat, yang akan dibelikan masker yang akan didonasikan melalui beberapa posko di jalan-jalan raya di Pekanbaru, Riau.
http://kprihatmono.blogspot.com/2019/09/kabut-asap-di-pekanbaru-riau-donasi.html

Salah satu posko pemberian bantuan masker

Penulis yang di artikel sebelumnya telah memberitakan kepada para orang tua pasien penulis agar turut serta membantu menyumbang seikhlasnya melalui Yayasan Mulia Hati Umat di beberapa hari sebelum tanggal 21 September 2019, maka dengan lanjutan artikel ini, semoga menjadi sekilas info tentang kondisi udara di 21 September, penyebaran bantuan masker ke masyarakat di Pekanbaru kepada saudara-saudara kita yang menerima masker, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, sampai ke anak-anak kecil baik itu di jalan-jalan raya hingga ke banyak masjid-masjid.

Akhirnya malam ini 22 September penulis mendapatkan foto-foto dan video-video kondisi di Pekanbaru tangggal 21 September 2019 (Sabtu) dengan bukti-bukti penyebaran ribuan masker ke masyarakat di Pekanbaru ke banyak posko, karena jumlah masker mencapai 1000an lebih maka penyebaran masker sampai ke banyak posko-posko lain (selain tenda utama) hingga ke masjid-masjid.
Jumlah masker 1066 pcs.
Jenis masker : N95 (3M).
Sejak mendarat di bandara Pekanbaru, masker sudah mulai dibagikan.










Kondisi udara di Pekanbaru per 21 September 2019 yang masih banyak kabut asap




Video 1 kondisi di Pekanbaru, Riau

Video 2 kondisi di Pekanbaru, Riau



Dari chat WA penulis dengan pemilik yayasan ini, dari dana yang terkumpul total masker yang disebarkan kemarin adalah mencapai 1066 buah masker. Kepada para orang tua pasien penulis yang sudah turut berdonasi, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, dan kepada Yayasan Mulia Hati Umat juga penulis ucapkan terima kasih. Semoga bantuan kemanusiaan ini mencapai sasarannya. Aamiin ya rabbal alamin.

Salam dari penulis,
Drs. R. Kurniawan Prihatmono




Senin, 16 September 2019

Kabut Asap di Pekanbaru Riau & Donasi Yayasan Mulia Hati Umat

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau dalam beberapa hari lalu masih sangat pekat menyelimuti wilayah ini. Bahkan kemarin 14 September 2019 seorang bayi usia 4 bulan yang pneumonia (radang paru) dikabarkan meninggal karena ISPA (walau masih belum terlalu jelas kabarnya apakah karena kabut asapnya atau karena pneumonianya, tapi sudah keburu meninggal. https://www.liputan6.com/news/read/4063541/bayi-4-bulan-meninggal-akibat-diduga-terpapar-kabut-asap

Berita kabut asap semakin banyak dalam 5 hari belakangan kejadian di Pekanbaru, mulai dari jarak pandang hanya 300 meter, dan lain-lain berita yang sangat membahayakan saluran pernafasan (paru-paru) kita.


Adalah Yayasan Mulia Hati Umat (beralamat di jl. Puri Bintaro Hijau Blok C No. 10, Pondok Aren Tangerang, profile dapat dibaca di bawah) pemilik yayasan ini menghubungi penulis, melalui whatsapp 14 September 2019 sehubungan dengan terjadinya kabut asap di wilayah Pekanbaru Riau bahwa akan mengadakan penggalangan dana untuk donasi untuk pembelian masker untuk disumbangkan ke Pekanbaru 21 September 2019 ini.


Tujuan kehadiran Mulia Hati Umat adalah memberikan tempat tinggal kepada bayi dan merawat dengan kasih sayang si bayi (yang tidak diinginkan oleh orang tuanya).

Sekaligus Mulia Hati Umat ingin berperan dalam membantu mengurangi tingkat kematian pada bayi yang dibuang. Mulia Hati Umat pun hadir untuk mengurangi kasus aborsi yang makin meningkat, yang konon pelakunya biasanya masih belia, (atau dari hubungan diluar nikah) dan bingung harus berbuat apa.

Mulia Hati Umat insya Alloh dapat membantu mereka yang punya niat untuk membuang anaknya atau mungkin membunuh anaknya agar menghindari hal tersebut terjadi, hal ini dilakukan demi keselamatan bayinya dan menghindari sang ibu dari jeratan hukum dari melakukan tindak kriminal seperti membuang/membunuh bayinya .

Mulia Hati Umat berusaha tetap membuka peluang kepada sang ibu kandung untuk bertaubat bahkan bersilahturahim dengan anaknya. Juga kami sangat mengapresiasi orangtua yang bertaubat dan ingin sepenuhnya bertanggung jawab merawat kembali anak kandungnya.  Mulia Hati Umat insya Alloh tidak akan menahan si bayi jika ibu kandungnya meminta kembali anaknya, selama kondisi ibunya memungkinkan (tidak pelaku narkoba, atau pelaku kriminal, mampu menafkahi dan mensejahterakan anak, dimana dikhawatirkan akan memberi resiko buruk kelak pada anaknya, dan juga tidak ada sakit kejiwaan). 

• Nama Yayasan : Yayasan Mulia Hati Umat
• Kantor Pusat : Jalan Raya Pondok Aren No.10, Pondok Aren, Tangerang Selatan
• Alamat Panti : PURI BINTARO HIJAU, Blok C1, No.10 Pondok Aren, Tangerang Selatan
• Bidang : Sosial, Pendidikan, Keagamaan

Semoga melalui blogspot ini dapat dibaca masyarakat Indonesia yang ingin membantu dari sebagian rezekinya melalui yayasan Mulia Hati Umat semoga sampai kepada masyarakat di Pekanbaru, Riau. Uang beberapa puluh ribu atau beberapa ratus ribu (mungkin) bagi yang bisa menyumbangkan dirasa tidak seberapa, tapi donasi tersebut dapat menyelamatkan banyak nyawa di propinsi tersebut, semoga menjadi ladang amal tersendiri bagi bapak/ibu di akhirat kelak.Aamiin.



Kepada para pembaca blogspot, untuk donasi per 21 September 2019 ini maaf sudah ditutup.

Artikel berlanjut ke:
http://kprihatmono.blogspot.com/2019/09/donasi-masker-melalui-yayasan-mulia.html

Salam dari penulis,
Drs. R. Kurniawan Prihatmono

Sabtu, 01 Juni 2019

Pendidikan Anak Down Syndrome Yang Dulunya Latihan Fisi kke Kami

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT


PENULIS MENDAPAT BANYAK  KIRIMAN VIDEO 
Sungguh kami (penulis dan istri) turut bahagia dan terharu banyak sekali di April dan Mei 2019 ini para orang tua yang dulunya latihan fisik bayinya ke kami saat anaknya masih bayi 0 tahun (antara 1 bulan sampai 7 bulan sudah memulai ke kami, di tahun ajaran Juli 2018-Juni 2019 hampir setiap minggunya, banyak sekali penulis mendapat kiriman video-video penampilan di kelas (performance) dari banyak orang tua yang 3 tahun lalu, 4 tahun lalu, 5 tahun lalu, latihan fisik bayinya kepada kami, sehingga saat ini sudah banyak sekali yang  masuk sekolah umum.

Salah satu bukti hasil CT scan otak bayi usia 19 bulan hasil metode kami

BUKTI DAN HASIL NYATA
Sungguh senang dan bahagia penulis mendapat kabar bahagia ini, ada yang mengirim langsung melalui whatsapp ke penulis, ada yang menaruh video anaknya di FB (facebook) yang berteman dengan FB istri penulis. Ada yang mengirim video:
+ ada yang mengirim anaknya dance dengan lagu Chicken Dance
+ ada yang kegiatan sedang mencuci alat-alat makan bersama teman-teman sekelasnya dengan air pancuran ledeng
+ ada yang bermain mainan edukasi bayi ring donut menara (usia belum lagi genap 3 tahun) di PAUD
+ ada yang usia 3 tahun sudah lancar naik tangga  tanpa pegangan
+ ada yang sedang gowes-gowes sepeda
dan masih banyak lagi yang kesemuanya dengan WAJAH sudah bagus-bagus cakep, ganteng tidak lagi berciri khas wajah down syndrome kembar 1000 DS (paling tidak pihak sekolah / orang awam/anak sebayanya tidak lagi melihat / mengenalinya dengan wajah berciri khas DS sehingga dapat meminimalisir anak dibully / diolok-olok atau diledek karena kekurang fahaman anak usia misalkan 6 tahun atau 7 tahun yang belum faham agar tidak meledek temannya.

Usia masuk sekolah PAUD umum inipun pada anak-anak hasil latihan fisik dan treatment pada kami ini beragam, ada yang usia 2,5 tahun, ada yang 3 tahun dan ada yang 4 tahun.


PARA ORANG TUA BANYAK SEKALI DI BERBAGAI PROPINSI BERSEDIA SHARING
Dan juga sangat banyak yang telah membuktikan hasil kami, sehingga atas permintaan penulis memohon kiranya untuk dapat sharing kepada orang tua lain yang baru memulai latihan fisik ke kami sekitar 1 bulan atau 1,5 bulan setelah ada beberapa kemajuan pada bayinya barulah kemudian kami pertemankan, agar ibu tidak hanya menjadi 'pembaca' saja atas bagusnya anak orang lain yang sudah ikut metode ke kami dahulunya:


Salah satu chat whatsapp orang tua yang dulunya bayinya adalah pasien kami  hingga wajahnya bagus dan bisa jalan dengan lancar bersedia sharing, katanya:

"Iya benar Pak, terkadang ketidaktahuan orang tua atas blogspot Pak Kurniawan (penulis) dan ada juga yang mengindahkan serta (ada yang) mengabaikan blogspot Pak Kurniawan karena ketidakpercayaan orang tua. Semoga kami sebagai orang tua dapat membagikan info dan berbagi  pengalaman yang mana anak-anak kami sudah menjadi bukti, buat orang tua anak DS yang lainnya yang belum tau atas terapi dzikiran Bu Arfah (istri penulis)."

Pertemanan dengan para orang tua ini tidak bisa dibuat-buat (andai ada bapak/ibu berprasangka yang tidak-tidak terhadap pertemanan ini), tapi memang benar adanya, silakan saja membuktikan karena di setiap pasien bayi yang dulunya kami setiap bayi ada hasil medis yang pernah di lakukan di berbagai rumah sakit di wilayah propinsinya, seperti tes echo jantung, ada tes hormon tiroid dan ibu / bapak bisa video call (vc) dengan ibu/bapak selaku orang tua pasien kami, mungkin bisa silaturahmi berkunjung ke rumah pasien kami di propinsi bapak/ibu dan melihat si video anak di sekolahnya dan lain-lain terserah ibu/bapak saja.

YANG MEMBEDAKAN KAMI DENGAN DI MANAPUN
Perkembangan bayi down syndrome saat ini (kami memulai pertama kali yaitu sejak 2008 hingga saat ini 2019 sudah melakukan agar wajah jadi bagus agar jauh dari wajah (lebih dulu) kembar 1000 jadi pada kami, tidak hanya untuk:

motorik kasar, motorik halus dan otot-otot dan latihan-latihan saja tapi sekaligus mengajarkan ke ibu-ibu sekalian, agar: wajah bayi ibu jadi lebih bagus (asalkan usia memulai terapi bawah 6  bulan)
juga langsung ke organ dalam dengan urut lembut disertai doa, hasil tentu kita setahkan kepada Allah SWT semoga hasil terbaik.

Inshaa Allah lebih banyak yang didapatkan kemajuan tumbuh kembang bayi DS ini, dan sebagai buktinya sudah banyak sekali yang masuk PAUD umum, Pra TK umum, dan TK Umum dan seterusnya (asalkan mata dan telinga tidak ada kelainan kondisi).

JANGAN BERKECIL HATI TAPI HARUS TETAP OPTIMIS DAN YAKIN
Kalau di Amerika (Oregon) anak DS bisa berhasil kuliah S1 (Sarjana Strata 1), di negara lain ada anak DS yang menjadi pengacara (lawyer), menjadi pemilik usaha kuliner, pemilik usaha kaos sablon (yang memperkerjakan orang-orang biasa), menjadi model, peragawati, menjadi pemain film, mengapa juga kita tidak bisa ? Inshaa Allah bisa, asalkan bapak/ibu rajin ikhtiar, sabar, penuh kasih sayang, dan cepat bergerak ke rumah sakit bila ada terlihat sakit agar tidak menjadi parah sesak dan radang paru  (pneumonia) yang terlambat ditangani, dan rajin melatih fisik perulangan sehari-hari harapan besar masuk sekolah umum semoga bisa dicapai dan semoga anak bisa mengikuti pelajarannya (tidak usah dihiraukan orang-orang yang membuat vonis atau mengecilkan hati bapak /ibu bahwa anak ini tidak bisa diharapkan apa-apa). Alhamdulillah pasien-pasien bayi kami telah banyak yang membuktikan pendidikan yang dimasukinya.
https://www.abicommunity.org/news/news_and_articles.html/article/2018/04/30/cody-sullivan-becomes-the-first-student-with-down-syndrome-to-complete-four-years-of-college-in-oregon

Walau yang di Amerika ini dan yang di Australia ini bukan hasil kami, tapi paling tidak Bapak & Ibu menjadi tahu bahwa anak DS bisa lulus kuliah S1 dengan baik dan berpenghasilan besar, menjadi orang hebat & berprestasi :
https://infograph.venngage.com/p/193835/down-syndrome


Dijelaskan di situs di atas bahwa down syndrome bukanlah penyakit, jadi fahamilah benar-benar apa itu kelainan DS, untuk tahu memperbaiki semua kelainan ciri yang terjadi, fahamilah ciri DS pada bayi bapak/ibu lalu kita perbaiki dengan metode  yang sangat banyak yang kami perbaiki.

Baca tentang ciri down syndrome (pada bayi bapak/ibu) setiap bayi berbeda, maka tentulah yang akan diperbaiki organ-organ luar dan dalamnya ada perbedaan target perbaikan:
http://kprihatmono.blogspot.com/2016/02/kprihatmonoblogspotcoid-mencapai-5.html


BUKTI HASIL CT Scan OTAK
Di awal artikel di atas, adalah salah satu bukti, salah satu orang tua pasien kami ingin mengetahui apakah otaknya berisi penuh dengan sel syaraf otak atau tidak (padahal kondisi waktu akan tes CT-scan otak, bayinya belum melakukan terapi wicara dan belum terapi okupasi dan belum terapi sensori integrasi), alhamdulillah ternyata penuh sehingga semoga ini menjadi bukti hasilnya, dari sisi bayi semoga otak kondisi ini siap menimba ilmu di pendidikan layaknya anak normal lainnya. Di saat bayinya 19 bulan (sekitar Juli 2017) salah satu orang tua pasien kami mendatangi RS PC (maaf hanya inisial saja) dan men CT scan otak bayinya yang kondisinya sudah bisa jalan dan berat badan cukup baik dan takjublah dokter spesialis syaraf yang melihat hasil CT Scan bayi DS bisa utuh penuh putih semua menandakan otaknya bagus.

Bayinya berat lahir hanya 1,95 kg, dilahirkan premature (hanya 7 bulan + 1 minggu) jadi terlihat sangat kurus sehingga kepala terlihat  agak besar kurang proporsional dengan tubuhnya, sehingga rumah sakit di Serpong  (tempat melahirkan) sampai merekomendasikan agar bayinya disedot dan diteliti kalau-kalau ada cairan di otak. Tapi kami tidak menganjurkan bila sampai pengambilan cairan (yang hanya diduga ini ada) kalau-kalau sampai kenapa-kenapa di otak lantas di bulan-bulan kemudian andaikan ada tungkai tubuh yang tidak bisa digerakkan bisa-bisa kami dipersalahkan.  Kondisi waktu itu di usia 2 minggu bayi (berat baru sekitar 2,1 kg) terlihat sangat kecil. Lalu di usia 1 bulan mulailah dengan treatment usap wajah dan motorik halus dan diperbaiki saluran pernafasan dan saluran pencernaan terlebih dahulu, alhamdulillah beberapa bulan berat naik dengan baik. Alhamdulillah akhirnya beratpun mencapai 8,5 kg di 1 tahun dan wajah cukup baik, membaik jauh dari banyak ciri-ciri tebal-tebal wajah kembar 1000 DS.

Begitu kami kunjungan ke rumahnya berkatalah ibunya ke kami, bahwa ibu ini baru minggu lalu melakukan CT-Scan otak anaknya dan katanya biasanya anak DS di otaknya hasil CT scan suka ada bagian yang berwarna gelap (jadi menandakan ada rongga-rongga kosong). Dan penulis diperlihatkan 1 klise besar seukuran sekitar A3 agak lebih besar sedikit begambar otak yang penulis fotokan di atas. Sedangkan pada anaknya rongga-rongga kosong (warna gelap) tersebut tidak ada. (Setelah menjelang 2 tahun barulah ikut terapi wicara, dan alhamdulillah di usia 2 tahun + 6 bulan diterima di PAUD umum di sekolah LC (maaf hanya inisial saja). Dam bisa kiss bye, cium tangan ke orang-orang di sekitarnya dan kepintaran-kepintaran lain-lain di usianya.

KESIMPULAN HASIL METODE KAMI
Jadi kondisi delay kecerdasan yang sangat (pada awalnya) yang menjadi sangat-sangat lebih baik ini berkorelasi positif dengan pola makan yang bergizi baik dan vitamin, maka hasil tumbuh kembang bayi down syndrome akan mempengaruhi hasil akhir bayi down syndrome sehingga :
+ keaktifan anak menjadi baik
+ fokus tatapan mata tidak tatapan mata kosong
+ ekspresi (aura) wajah dan senyuman
+ kecerdasan anak meningkat baik
+ kepintaran anak meningkat baik
+ perilaku yang seperti  dilakukan anak seusianya pada umumnya

Sangat dipengaruhi oleh penuh tidaknya sulur-sulur miliaran sel-sel syaraf otak dan sudah bekerja dengan baik dari hasilnya, sehingga dapat meningkatkan kecerdasan mental anak down syndrome.

Semoga hasil hasil bayi-bayi down syndrome kami dengan metode kasih sayang (usap, urut, latihan dan do'a ke otak), inshaa Allah berhasil juga masuk universitas dan semoga dapat berprestasi dalam hidup mereka kelak tak hanya sebatas jadi anak yang mandiri bisa menguasai dirinya untuk rutin makan, minum, mandi dan jalan, bicara dan berpakaian (sendiri) saja. Tapi jauh dari itu yaitu menjadi anak mandiri yang sejahtera dan berprestasi seperti di negara-negara maju.

[Sekedar Info] Penulis banyak sekali mendapat sms dan e-mail dari berbagai orang tua pemilik bayi down syndrome di berbagai propinsi Indonesia yang menulis bahwa anaknya hingga usia 3 tahun masih belum bisa berjalan, padahal sudah mengikuti saran medis di usia 1 bulan sampai usia 6 bulan ada minum obat/vitamin, lalu sejak bayinya mencapai usia 6 bulan hingga 3 tahun masih ikut fisioterapi tapi belum juga bisa berjalan.
Bagi bapak/ibu yang ragu-ragu dan akhirnya bayinya belum bisa jalan juga di usia 3 tahun atau lebih, sangat penulis sayangkan sekali,  itupun tanpa perbaikan wajah ciri khas DS-nya seperti metode kami, penulis katakan: "Maaf untuk ikut metode kami sudah terlambat, tulang sudah mengeras, jaringan ikat di wajah sudah tetap (fixed) dan tangan anak kalau kita treatment leher dan kepala (otaknya) sudah menangkis-nangkis tangan kita sehingga anak sulit dipegang untuk kepalanya".

Jadi jangan ragu bagi bayi DS bapak/ibu sekalian yang diikuti. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk bapak/ibu sekalian terutama bagi orang tua yang baru memiliki bayi DS dan masih bingung untuk latihan fisik dan treatment usapan dan urut metode kami.

Salam dari penulis,
Drs. R. Kurniawan Prihatmono
Sms-kan nomor WA ke 081386837511

JANGAN EMAIL
Hanya bagi yang serius memiliki bayi DS
Menerima semua agama & suku apapun